Kualitas udara yang terus memburuk di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) selama satu bulan terakhir mulai menelan korban secara masif. Dinas Kesehatan mencatat adanya lonjakan kunjungan pasien hingga 40 persen di berbagai klinik dan Instalasi Gawat Darurat (IGD), dengan keluhan utama berupa Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma yang kambuh, serta pneumonia.
Berdasarkan data dari situs pemantau udara independen, partikel debu halus PM 2.5 berulang kali menembus level ‘Sangat Tidak Sehat’ secara terus-menerus. Partikel mikroskopis ini sangat berbahaya karena ukurannya memungkinkan ia masuk menembus jauh ke dalam alveolus paru-paru, bahkan ikut mengalir ke dalam peredaran darah, memicu respons peradangan sistemik di dalam tubuh.
Para pakar kesehatan masyarakat mendesak pemerintah daerah untuk mengambil tindakan intervensi darurat, bukan sekadar imbauan memakai masker. Usulan pembatasan kendaraan bermotor berbasis pelat ganjil-genap yang diperluas, penertiban emisi pabrik industri penyangga, hingga rekayasa cuaca (hujan buatan) menjadi opsi yang harus segera dieksekusi sebelum situasi berkembang menjadi krisis kesehatan publik berskala besar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
*Sumber: Tirto.id*














