Tanpa desas-desus yang berarti, Presiden secara mendadak mengumumkan perombakan kabinet (reshuffle) jilid ketiga pada sore hari ini di Istana Merdeka. Perombakan kali ini secara spesifik menyasar tiga kementerian strategis di bawah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, yakni Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Investasi (BKPM).
Dalam keterangan pers singkatnya, Presiden menegaskan bahwa perombakan ini murni didasarkan pada hasil evaluasi Key Performance Indicator (KPI) yang mandek di sektor tersebut, khususnya terkait lambatnya realisasi investasi asing langsung (FDI) serta sengkarut stabilisasi harga pangan pokok menjelang musim libur akhir tahun. “Kita butuh penyegaran dan ritme kerja yang lebih cepat. Dunia bergerak sangat dinamis, kita tidak bisa hanya bekerja dengan pola *business as usual* jika ingin target pertumbuhan ekonomi tercapai,” ujar Presiden.
Menariknya, ketiga posisi menteri baru tersebut tidak diisi oleh figur politisi partai koalisi, melainkan diisi secara profesional oleh teknokrat terkemuka: seorang mantan gubernur bank sentral, seorang CEO konglomerasi multinasional, dan seorang akademisi ahli ekonomi makro. Keputusan berani ini menuai pujian dari berbagai analis politik sebagai sinyal kuat bahwa Presiden ingin fokus penuh mewariskan *legacy* perbaikan ekonomi yang solid, mengesampingkan jatah bagi-bagi kursi politik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
*Sumber: Kompas.com*















