Gaya hidup masyarakat urban yang super sibuk melahirkan tren kebugaran baru yang sangat populer: High-Intensity Interval Training atau HIIT. Metode olahraga kardio ini menjanjikan pembakaran kalori masif dan peningkatan detak jantung maksimal hanya dalam durasi waktu 15 hingga 20 menit per sesi, jauh lebih singkat dibandingkan lari *jogging* selama berjam-jam.
Secara fisiologis, HIIT memicu efek ‘afterburn’ atau EPOC (Excess Post-exercise Oxygen Consumption). Artinya, tubuh akan terus menerus membakar kalori secara ekstra bahkan hingga 24 jam setelah sesi olahraga selesai demi memulihkan cadangan oksigen di otot. Tak heran jika kelas-kelas HIIT di pusat kebugaran (gym) selalu penuh sesak diminati oleh kalangan pekerja kantoran yang ingin menjaga berat badan ideal.
Kendati demikian, dokter spesialis kedokteran olahraga dan fisioterapis memberikan peringatan keras. Gerakan-gerakan eksplosif dan lompatan dalam HIIT, seperti *burpees* atau *jump squats*, memberikan tekanan (impact) yang sangat besar pada sendi lutut dan pergelangan kaki. “Banyak pemula yang nekat mengikuti video HIIT di YouTube tanpa persiapan otot panggul (core) yang kuat, sehingga berakhir di ruang gawat darurat akibat cedera ligamen sobek,” tegas dr. Anita, ahli fisioterapi olahraga. Ia menyarankan pemula untuk mulai dengan intensitas rendah atau didampingi pelatih profesional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
*Sumber: Suara.com*














